harap, harapan, pengharapan

ARTIKEL

  

 

 

 


JENDELA

Di sebuah ruangan rumah sakit, terbaring dua orang lumpuh penderita kanker stadium akhir yang sedang menunggu 'jemputan' sang maut. Hanya ada sebuah jendela di kamar itu, jadi pasien yang satu bisa melihat keluar jendela sedangkan pasien satunya tidak bisa melihat keluar jendela karena jaraknya terlalu jauh dari tempat tidurnya. Setiap hari, pasien yang tidak bisa melihat jendela itu selalu bertanya tentang keadaan diluar kepada temannya yang ranjangnya dekat jendela, pasien yang dekat jendela itupun tiap hari selalu menceritakan yang dilihatnya diluar sana. Orang yang dekat jendela selalu menceritakan kalau diluar jendela ia bisa melihat di kejauhan ada taman yang indah, banyak orang lalu lalang tidak henti-hentinya, dan banyak kejadian yang setiap hari diceritakannya dengan detail kepada temannya itu. Itulah 'kesibukan' mereka sehari-hari, karena memang mereka sudah lumpuh dan tidak bisa melakukan aktifitas normal.

Suatu malam, orang yang berbaring jauh dari jendela itu mendengar suara-suara aneh dari temannya yang tidur dekat jendela. Ia membuka mata dan dilihatnya sang teman sedang 'sekarat', ia berteriak-teriak memanggil suster yang ada diluar. Bantuanpun segera datang, para suster dan dokter segera membantu pasien tersebut, malang sekali karena semua pertolongan itu akhirnya sia-sia. Sang teman meninggal dunia, dan tidak ada lagi yang bisa menceritakan keadaan diluar jendela kepada dirinya.

Keesokan harinya, ia meminta kepada suster untuk berpindah tempat tidur, jadi sekarang ia pindah ke dekat jendela dan bisa melihat pemandangan yang sering diceritakan temannya itu. Saat ia tiba di tempat tidur yang diinginkannya dan melihat keluar jendela, ternyata yang dilihatnya hanyalah ........ tembok tinggi berwarna putih, tidak ada sesuatupun yang indah untuk dilihat. Ia baru menyadari bahwa selama ini sang teman yang baru meninggal itu menceritakan pemandangan indah hanya untuk menghibur dan membesarkan hatinya.


Pada saat ini di Indonesia, 'katanya' keadaan rakyat kecil sedang susah, cari uang susah setengah mati, gaji tidak naik tapi biaya hidup naik terus, jual barang juga susah karena pembeli makin selektif, dan pada akhirnya makin banyak orang yang termasuk dalam golongan miskin. Seyogyanya dalam kondisi demikian, kita tidak 'ikut-ikutan' mempopulerkan keadaan yang susah, ikut demo dan sebagainya. Tapi selalu berikan penghiburan dan harapan baru kepada semua orang, tawarkan jalan keluar sehingga rasa optimis dan sikap positif yang kita punyai (walaupun mungkin sedang sama-sama susah) bisa 'menular' kepada orang lain dan membawa orang di sekitar kita menjadi lebih optimis dan lebih baik.

Coba bayangkan, seandainya ada 2 orang yang sedang sama2 susah, yang satu selalu murung dan mengutuki keadaan sekitarnya saat ini (cenderung bersikap negatif), sedangkan yang satunya selalu gembira dan selalu berusaha mencari jalan keluar dari keadaan susahnya saat ini (cenderung bersikap positif). Yang mana akan keluar lebih dulu dari kesusahan yang mereka hadapi?


 

harap, harapan, pengharapan

Pengharapan @ 2008