Perawat Rumah Sakit Masih Lebih Mementingkan Uang Dibandingkan Keselamatan Pasien

.
Ads Here
Seperti kata orang, " Uang tidak bisa menjamin umur panjang tapi hanya bisa digunakan sebagai penukar resep obat di apotik.  Uang tidak bisa membedakan antara orang kaya dan orang miskin, tapi menusia menggunakannya sebagai alat ukur.
Begitulah kisah nyata yang dialami oleh seorang Bapak ( Muharram Siregar) ketika anak semata wayangnya Ahza Walda Siregar (2) masuk Rumah Sakit Pringadi.
Konon awalnya anaknya masih dilayani dokter dan perawat dengan baik, namun dua hari di rumah sakit, Ahza Waldan Siregar menghembuskan nafas terakhir (meninggal dunia), pada hari Selasa (19/9) sekira pukul 06.00 WIB

Perawat Rumah Sakit Lebih Mementingkan Uang Dibandingkan Keselamatan Peagawai
Copyright : sorotdaerah.com

"Sudah jatuh ditimpa tangga pula", demikian juga hal yang menambah kesedihan Muharram ketika korban (Ahza Walda Siregar) hendak dibawa pulang oleh ayahnya Muharram Siregar kerumah duka, agar segera di makamkan, namun salah seorang perawat RS.Pirngadi meminta tebusan pembayaran perawatan yang tak jelas rinciannya, sebesar Rp.4.328.000,- , padahal korban adalah pasien BPJS, tutur Muharram.

Sepengetahuan Muharram bahwa uang denda BPJS yang semestinya dibayar adalah Rp. 1.328.00,- namun Muharram kaget ketika salah seorang perawat mengatakan, " Bapak harus bayar Rp.4.328.000,- baru anak ini boleh dibawa pulang, dana sebesar itu termasuk denda BPJS yang belum bapak bayarkan selama setahun". Dalam hal ini Muharram bingung uang yang 3 juta lagi itu uang apa dan untuk apa.

Demi jasad dan keamanan  anaknya, Muharram harus berusaha mencari uang 4 juta ke rentenir sekalipun harus berutang. Namun hal tersebut membuat Muharram merasa dipermainkan dan diduga ada pungli (Pungutan liar) dan Muharram pun menelepon wartawan.

Ternyata ketika diminta klarifikasi kepada perawat di ruang ICU lantai 4 terkait masalah tersebut, perawat tidak bisa menjawab. Muharram sempat marah dengan menuturkan, " Biaya apa aja itu kok besar kali pembayaran pasien BPJS, dua harinya dirawat, kalau denda tunggakan PBJS yang kalian bilang, Ok lah, tapi uang yang tiga juta itu uang apa, mana kwitansi dan rinciannya, jangan kalian main-main, ini pasien BPJS, kalian tahan pula orang yang sudah mati".
Demi menghindari hal yang tak diingikan, salah seorang pegawai rumah sakit (Amir) membawa keluarga Muharram menjumpai Kepala instansi Rawat Inap, Ibu Endang Rostiani.

Ternyata setelah diklarifikasi Ibu Endang tersebut marah kepada perawat yang meminta uang tebusan sebesar Rp. 4.328.000,- tersebut. Akhirnya, atas kebijakan dan hati nurani ibu Endang Rostiani, meminta kepada rekannya untuk memotong pembayaran denda tunggakan BPJS yang belum dibayar setahun, saja sebesar Rp.1.328.000,- ribu rupiah, dan sisanya, yang Rp.3 juta dikembalikan kepada keluarga almarhum Ahza Waldan Siregar, dan ibu Endang Rostiani pun menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga.

 

0 Response to "Perawat Rumah Sakit Masih Lebih Mementingkan Uang Dibandingkan Keselamatan Pasien"

Post a Comment