PERAN MANAJEMEN DALAM PEMBELAJARAN SAINS

.
Ads Here
PERAN MANAJEMEN DALAM
PEMBELAJARAN SAINS


              Ilmu pengetahuan alam atau Sains merupakan terjemahan kata-kata inggris yaitu natural science artinya ilmu yang mempelajari tentang alam. Penekanan dalam pembelajaran Sains adalah pengembangan kreativitas anak dalam mengelola pemikirannya menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain yang ada dilingkungannya, sehingga memperoleh suatu gagasan (ide), pemahaman, serta pola baru dalam berfikir memahami suatu objek yang diamati.
              Budi (1998) mengutip beberapa pendapat para ahli dan mengemukakan beberapa rincian hakikat Sains, diantaranya: (1) Sains adalah bangunan atau deretan konsep dan skema konseptual (conceptual scheme) yang Saling berhubungan sebagai hasil eksperimentasi dan observasi (Conant, dalam Kuslan dan Stone, 1978) , (2) Sains adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi (Vessel, 1975), (3) Sains adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui data yang dikumpulkan melalui observasi atau eksperimen yang dikontrol (Carin and Sund, 1989) dan (4) Sains adalah aktivitas pemecahan masalah oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan akan alam di sekelilingnya dan keinginan untuk memahami, menguasai, dan mengelolanya demi memenuhi kebutuhan (Dawson, 1984).
               Pendidikan merupakan salah satu pilar penting bagi kemajuan masa depan suatu bangsa. Keberhasilan tingkat pendidikan sangat dipengaruhi oleh cara mengelola atau managemen pendidikan tersebut.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2005: 1-2) yang dimaksud dengan manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Jhonson, dkk (1973) berpendapat manajemen adalah proses dimana sumber daya
yang tidak berhubungan dipadukan kedalam satu sistem terpadu untuk mencapai tujuan dari sistem organisasi pendidikan. Para manajer pendidikan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dan pekerjaan dari sejumlah orang yang terlibat dalam proses manajerial secara profesional. Untuk itu setiap pengelola pendidikan harus menyadari bahwa keterampilan manajerial sangat penting artinya dalam memajukan sekolah terutama meningkatkan produktivitas pendidikan.
Peranan dan kedudukan sumber daya manusia yang demikian besar dalam suatu organisasi, dengan segala heterogenitas dan kompleksitasnya perlu dikelola agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab dalam upaya mencapai dua pola kepentingan yaitu kepentingan individu dan kepentingan organisasi.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam suatu organisasi. Manusia dengan segala potensi yang dimilikinya banyak memainkan peranan dalam suatu pencapaian tujuan organisasi.
Namun demikian pada sudut pandang yang lain kita pun menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Dikatakan unik karena manusia satu sama lain berbeda dalam hal kepentingan, kebutuhan, keinginan dan beberapa perbedaan lainnya. Ini merupakan akibat perbedaan dalam hal jenis kelamin, usia, pendidikan, tingkat sosial budaya dan lainnya. Sebagai konsekuensi dari perbedaan tersebut ialah harus dibinanya perbedaan sikap (attitude) dan tingkah laku (behavior) mereka, sehingga secara harmonis dapat diarahkan kepada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
              Sains merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangt penting keberadaannya. Pembelajaran sains memerlukan ketrampilan dan pengelolaan yang baik agar dapat berhasil. Pembelajaran sains hendaknya melibatkan siswa secara aktif dalam berpikir kritis dan bukan pasif sebagai pendengar dongeng saja.
              Berdasarkan pada uraian di atas, jelas bahwa upaya managemen pembelajaran sains harus dilakukan secara tepat, efektif dan efisien.


A Fungsi – Fungsi Managemen
              Secara umum aktivitas manajemen ada dalam organisasi yang diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien. George R. Terry (1973:134) menjelaskan manajemen adalah kemampuan mengarahkan dan mencapai hasil yang diinginkan dengan tujuan dari Usaha-usaha manusia dan sumber daya lainnya. Hersey dan Blanchard (1988:156) mengemukakan bahwa manajemen sebagai proses bekerja sama antara individu dan kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi adalah sebagai aktivitas manajemen.
              Proses di sini menghadirkan berbagai fungsi dan aktivitas yang dilaksanakan oleh manajer dan anggota atau bawahannya dalam suatu organisasi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen merupakan proses memperoleh suatu tindakan dari orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Aktivitas manajerial itu dilakukan oleh para manajer sehingga dapat mendorong sumber daya personil bekerja memanfaatkan sumber daya lainnya sehingga tujuan organisai yang disepakati bersama dapat tercapai. Sejalan dengan pendapat di atas Mondy & Premeaux (1995:234) mengemukakan bahwa proses manajemen dilakukan para manajer di dalam suatu organisasi, dengan cara-cara atau aktivitas tertentu mereka mempengaruhi para personil atau anggota organisasi, pegawai, karyawan atau buruh agar  mereka bekerja sesuai prosedur, pembagian kerja, dan tanggung jawab yang diawasi untuk mencapai tujuan bersama.
            Dalam perspektif lebih luas, manajemen adalah suatu proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien. Berarti manajemen merupakan perilaku anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dengan kata lain, organisasi adalah wadah bagi operasionalisasi manajemen. Karena itu di dalamnya ada sejumlah unsur pokok yang membentuk kegiatan manajemen, yaitu : unsur manusia (men), barang-barang (materials), mesin (machines), metode (methods), uang (money) dan pasar atau (market). Keenam unsur ini memiliki fungsi masing-masing dan saling berinteraksi atau mempengaruhi dalam mencapai tujuan organisasi terutama proses pencapaian tujuan secara efektif dan efesien.


1.      Perencanaan (Planning)
              Dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien, aktivitas manajemen pertama yang harus difungsikan sepenuhnya pada setiap organisasi adalah kegiatan perencanaan. Perencanaan merupakan tindakan awal dalam aktivitas manajerial pada setiap organisasi. Karena itu, perencanaan akan menentukan adanya perbedaan kinerja (perforemance ) satu organisasi dengan organisasi lain dalam pelaksanaan rencana untuk mencapai tujuan. Mondy & Premeaux (1995:138) menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Berarti di dalam perencanaan akan ditentukan apa yang akan dicapai dengan membuat rencana dan cara-cara melakukan rencana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan para manajer di setiap level manajemen.
              Selanjutnya Terry (1973:192) mengemukakan bahwa terdapat tiga unsur pokok dalam kegiatan perencanaan yaitu : (1) pengumpulan data, (2) analisis fakta dan, (3) penyusunan rencana yang konkrit. Dalam perencanaan ada tujuan khusus. Tujuan tersebut secara khusus sunguh-sungguh dituliskan dan dan dapat diperoleh semua anggota organisasi. Dan perencanaan mencakup periode tahun tertentu. Jelasnya, ada tindakan program khusus untuk mencapai tujuan ini, karena manajemen memiliki kejelasan pengertian sebagai bagian yang mereka inginkan.
              Elemen perencanaan menurut Johnson, dkk (1973:50) yang mesti dipenuhi para manajer dalam pekerjaannya, yaitu: (1). Sasaran, (2) Tindakan-Tindakan, (3) Sumberdaya, (4) Implementasi (5) Misi, adan (6) Sasaran. Sasaran menurut Siagian (1985:34) seharusnya memiliki empat karakteristik dasar, yaitu : (1) sasaran harus diyatakan dalam tulisan, (2) sasaran harus terukur, (3) sasaran harus spesifik sebagai suatu yang memerlukan alokasi waktu, dan (4) sasaran harus menantang tetapi dapat dicapai.
              Akhirnya sasaran yang terlalu mudah mencapainya memberikan kepuasan yang sedikit bila dicapai. Sementara di lain pihak, sasaran yang tidak tercapai adalah lebih membuat pekerjaan frustasi dari pada mendorong mereka. Karena itu, sasaran harus menantang tetapi dapat dicapai. Sasaran dikembangkan pada setiap level manajemen.

2.      Pengerganisasian (Organizing)
              Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen yang kedua dan merupakan langkah strategis untuk mewujudkan suatu rencana organisasi. Menurut Winadi (1990) pengorganisasian ialah suatu proses di mana pekerjaan yang ada dibagi dalam komponen-komponen yang dapat ditangani dan aktivitas-aktivitas mengkoordinasikan hasil yang dicapai untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat di atas ,Terry (1973) menjelaskan bahwa pengorganisasian merupakan usaha penciptaan hubungan tugas yang jelas antara personalia, sehingga dengan demikian setiap orang dapat bekerja bersama-sama dalam kondisi yang baik untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Pengorganisasian yang dilaksanakan para manajer secara efektif, akan dapat: (1) menjelaskan siapa yang akan melakukan apa (2) menjelaskan siapa memimpin siapa (3) menjelaskan saluran-saluran komunikasi (4) memusatkan sumber-sumber data terhadap sasaransasaran (Winardi, 1990).

3.      Pengawasan (Controlling)
              Sebagai salah satu fungsi manajemen, pengawasan merupakan tindakan terakhir yang dilakukan para manajer pada suatu organisasi. Siagian (1985) berpendapat bahwa pengawasan (controlling) merupakan proses pengamatan atau pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan pengawasan diharapkan penyimpangan dalam berbagai hal dapat dihindari sehingga tujuan dapat tercapai. Apa yang direncanakan dijalankan dengan benar sesuai hasil musyawarah dan pendayagunaan sumber daya material akan mendukung terwujudnya tujuan organisasi. Robins (1984) menjelaskan bahwa pengawasan dimaknai sebagai segala aktivitas untuk menjamin pencapaian tujuan sebagaimana direncakan dan pemeriksaan terhadap adanya penyimpangan menjadi hakekat pengawasan. Pengawasan ini dapat dilakukan secara langsung (direct control) maupun pengawasan tidak langsung (indirect control)

4.      Kepemimpinan (Leading)
              Pemimpin adalah orang yang diserahi tugas dan tanggung jawab untuk memimpin organisasi. Pemimpin memiliki kemampuan untuk memimpin, ilmu dan pengetahuan, berpengalaman serta harus memenuhi persyaratan keterampilan dan pengetahuan misalnya mengatur pembagian kerja, merancang strategi, mengkoordinasikan sumberdaya, dan bersikap kooperatif untuk memperlancar pekerjaan dalam mencapai tujuan. Kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin dalam mempengaruhi, mengendalikan tingkah laku dan perasaan orang lain untuk mencapai tujuan merupakan substansi kepemimpinan itu sendiri. Para pemimpin berperan dalam menciptakan perasaan sukarela dari anggota organisasinya melakukan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.
            Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. Istilah kepemimpinan dalam bahasa Inggris disebut leadership”. Stogdill dalam Keith Grint (1997:234) menjelaskan bahwa pemahaman kepemimpinan sebagai tindakan mempengaruhi kegiatan kelompok dan pencapaian tujuannya. Di dalamnya terdiri dari unsur-unsur kelompok (dua orang atau lebih), ada tujuan dalam orientasi kegiatan serta pembagian tanggung jawab sebagai bentuk perbedaan kewajiban anggota. Hersey dan Blanchard (1988:135) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu. Dengan kata lain, dalam proses kepemimpinan itu dijumpai fungsi pemimpin, pengikut (anggota) dan situasi
              Kepemimpinan harus ada jika suatu organisasi hendak berjalan efektif. Oleh sebab itu kepemimpinan dalam organisasi adalah kepemimpinan administratif atau kepemimpinan manajerial. Karenanya pemimpin dalam organisasi merupakan manajer yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen sejak dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), pengawasan (controlling) dan evaluasi (evaluating) dalam rangka mencapai tujuan organaisasi secara efektif dan efesien.

B.     Tugas Guru Dalam Managemen Pembelajaran
1.      Guru Sebagai Fasilitator
              Sebagai fasilitator, guru merupakan agen pengetahuan (bukan pemilik pengetahuan). ia memastikan siswa memperoleh cukup informasi dan pengetahuan, baik melalui penjelasan atau kegiatan yang dirancangnya maupun melalui sources yang ia rekomendasikan. Guru sebagai fasilitator berarti guru merancang situasi sehingga siswa berperan dalam mengarahkan pembelajaran, dan guru membantu siswa menemukan pengetahuan. Karena siswa belum terbiasa dengan ide "menemukan pengetahuan" tentu pada awalnya mereka akan mengalami kesulitan, guru perlu hadir disana, memberikan bimbingan dan suport sehingga siswa mau mengeluarkan seluruh potensinya untuk menemukan cara meraih pengetahuan.

Terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator, di bawah ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses:
  1. Mendengarkan dan tidak mendominasi
  2. Bersikap sabar
  3. Menghargai dan rendah hati
  4. Mau belajar
  5. Bersikap sederajat
  6. Bersikap akrab dan melebur
  7. Tidak berusaha menceramahi
  8. Berwibawa
  9. Tidak memihak dan mengkritik
  10. Bersikap terbuka
  11. Bersikap positif
2.      Guru Sebagai Motivaor
              Guru sebagai motivator artinya guru sebagai pendorong siswa dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Proses pembelajaran akan berhasil manakala peserta didik mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar peserta didik yang efektif.
Seabagai motivator hendaknya guru memperhatikan prinsip-prinsip, sebagaimana yang dikatakan E Mulyasa, berikut ini
§  Peserta didik akan bekerja keras kalau memiliki minat dan perhatian terhadap pekerjaannya
§  Memberikan tugas yang jelas dan dapat dimengerti
§  Memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi peserta didik
§  Menggunakan hadiah dan hukuman secara efektif dan tepat guna
§  Memberikan penilaian dengan adil dan transparan
Adapun peranan guru sebagai motivator adalah:
1.      Bersikap terbuka
2.      Membantu siswa agar mampu memahami dan memanfaatkan potensinya
3.      Menciptakan hubungan yang serasi dan penuh kegairahan dalam interaksi belajar

3.      Tugas Guru Sebagai Inspirator
              Guru sebagai pemberi inspirasi belajar harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi sesuai dengan apa yang dipelajari. Membangkitkan ide, pemikiran, gagasan, optimesme dan keharmonian dalam belajar dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung.
Ada 3 (tiga) pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran dikelas agar menjadi sumber inspirasi atau pemberi inspirasi :
1.      Melalui Pendekatan Kecerdasan Emosional
2.      Melalui Pendekatan Kecerdasan Spiritual
3.      Melalui Pendekatan Kecerdasan Sosial
Untuk itulah pemerintah membuat standar kompetensi guru yang meliputi :
Ø  Personal / kepribadian
Kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia yang menjadi teladan bagi peserta didik. 
Ø  Profesional
Kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru dapat membimbing peserta didik untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
     Ø  Pedagogik
Kemampuan mengelola peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
Ø    Sosial
Kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

4.      Guru Sebagai Pemimpin
            Kepemimpinan sebagi prilaku seorang pimpinan dalam mempengaruhi individu dan kelompok orang dapat berlangsung dimana saja. Kepemimpinan dalam organisasi sekolah adalah kepemimpinan pendidikan.
Menurut Sue dan Glover (2000) dalam konteks pembelajaran, peran guru adalah mendorong murid untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang memungkinkan aktivitas manajemen, struktur organisasi, sistem dan proses yang diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para murid secara maksimal.
Dalam situasi pembelajaran diperlukan manajemen pembelajaran untuk semuayang terlibat dalam memudahkan proses pembelajaran. Guru adalah motivator untuk mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar.
Oleh karena itu, guru sebagi pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu :
  1. Memperkokoh Motivasi Siswa.
  2. Memilih Strategi mengajar yang tepat.

 C.    Tindakan – Tindakan Korektif Dalam Proses Pembelajaran
1.      Evaluasi Pembelajaran
            Dalam konteks manajemen pembelajaran, kontrol (pengawasan) adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang guru untuk menentukan apakah fungsi organisasi serta pimpinananya telah dilaksanakan dengan baik mencapai tujuan-tjuan yang ditentukan.
Jonhson (1978:74) menyimpulkan kontrol sebagai fungsi dari sistem yang memberikan penyesuaian dalam mengarahkan kepada rencana, pemeliharaan dari variasi-variasi dari sasaran sistem didalam batasan-batasan yang diperbolehkan.
Hamalik (1990), karena tugas seorang perancang sistem dalam konteks pembelajaran adalah mengorganisir orang-orang, material dan prosedur-prosedur agar siswa belajar secara efisien.
Oleh karena itu, Hamalik memberikan tiga implikasi, yaitu :
  1. Evaluasi adalah proses yang terus-menerus bukan hanya pada akhir pengajaran, akan tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran.
  2. Proses evaluasi senantiasa diarahkan kepada tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran.

              Evaluasi menuntut pengguanaan alat-alat ukur yang akurat dan  bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. bagi siswa yang yang tidak tertib dan kurang hati-hati dalam belajar, akan mendapatkan nilai yang rendah dan wajib mengikuti remidi. remidi cukup dilakukan hanya sekali kesempatan. jika gagal maka nilai yang terbaik yang akan diambil, meskipun kurang dari target KKM terendah (tidak tuntas).
        Pembelajaran Remidial (Remidial teaching) pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi siswa yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Pembelajaran Remidial bertujuan agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, sekurang-kurangnya sesuai dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal yang dimiliki oleh setiap mata pelajaran. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran remidial  terdiri atas empat bentuk kegiatan yaitu :
  1. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda dilakukan apabila jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari 50% dari populasi siswa per kelas
  2. Pemberian bimbingan secara khusus (misalnya dengan bimbingan perorangan) dilakukan apabila jumlah siswa yang mengikuti remedial maksimal 20% dari jumlah populasi siswa per kelas
  3. Pemberian tugas kelompok dilakukan apabila jumlah siswa yang mengikuti remedial berada diantara 20% – 50% jumlah populasi siswa per kelas
  4. Pemanfaatan tutor sebaya
              Semua bentuk pelaksanaan pembelajaran remidial diakhiri dengan diadakannya tes ulang (Remidial test) dan pelaksanaannya dilakukan di luar jam tatap muka.
Kegiatan Pengayaan dilakukan oleh siswa yang mendapatkan nilai yang melampaui persyaratan minimal mata pelajaran dan tidak semua siswa bisa melakukannya. Pelaksanaan pembelajaran pengayaan berbentuk :
  1. Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu
  2. Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraf, dll.
  3. Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan
  1. Membantu guru dalam membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.

2.      Ttujuan Dan Fungsi Evaluasi Pengajaran
Tujuan utama evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol.
Hasil evaluasi belajar dapat difungsikan dan ditujukan untuk keperluan berikut :
  • Untuk Diagnostik dan Pengembangan,
  • Untuk Seleksi,
  • Untuk Kenaikan Kelas, dan
  • Untuk Penempatan.
Davis (1991:294) mengemukakan beberapa manfaat dari evaluasi belajar, yaitu :
  1. Mengukur kopetensi atau kapabilitas siswa apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah yang ditentukan.
  2. Mentukan tujuan mana yang belum direalisasikan sehingga tindakan perbaikan yang cocok dapat diadakan.
  3. Merumuskan ranking siswa dalam hal kesuksesan mereka mencapai tujuan yang telah disepakati.
  4. Memeberikan informasi kepada guru tentang cocok tidaknya strategi mengajar yang ia gunakan, supaya kelebihan dan kekurangan strategi mengajar tersebut dapat ditentukan.
  5. Merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran, dan menentukan apakah sumber belajar tambahan perlu diberikan.

              Menurut Seels dan Rechey (1994) penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangannya sebelumnya.
Jenis-jenis Evaluasi adalah sebagai berikut :
  • Evaluasi formatif adalah yang berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
  • Evaluasi sumatif adalah evaluasi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar siswa.
              Insrumen evaluasi hasil belajar disebut juga teknik tes atau teknik non tes. Evaluasi menempati posisi yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar (PBM). Kedudukan evaluasi hampir sama dengan tujuan dan memiliki hubungan yang erat dalam sistem pengjaran.
              Menurut Hamalik (1989:5), bahwa proses pendidikan sebagai proses untuk merubah tingkah laku dan sikap sesuai dengan tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor, dalam garis besarnya , proses itu terdiri dari  tiga aspek penting, yaitu :
ü  Tujuan pendidikan yang telah digariskan secara eksplisit dan implisit
ü  Pengalaman-pengalaman belajar didesain untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, dan
ü  Evaluasi yang dilakukan untuk menentukan seberapa jauh tujuan telah dicapai.

Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran unggul, maka harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
  1. Guru,
  2. Siswa,
  3. Metode Mengajar,
  4. Manajemen Pembelajaran,
  5. Psikologi Pembelajaran,
  6. Lingkungan Belajar,
  7. Sarana, Prasarana, Media, Laboratorium, dan
  8. Dana.

Kesimpulan
              Dalam Total Quality Management , pembelajaran adalah berbasis kepada lingkungan, maka bidang pengajaran disepakati sebagai langkah pertama untuk menghabiskan rancangan dan proses pembelajaran yang efektif.
Hal yang penting dalam rancangan pembelajaran adalah hubungan fungsional yang jelas antara input, prose dan output dalam pembelajaran.
Saat guru mengelola pengajaran dan pembelajaran serta peningkatan harus melibatkan usaha-usaha guru dalam proses.
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Pembelajaran sains membutuhkan adanya suatu pengelolaan atau manajemen yang tepat dan sesuai
2.    Peran manajemen dalam pembelajaran sains dapat menjadikan pembelajaran efektif, efisien dan kompetitif
3.     Manajemen menjadikan pembelajaran sains menjadi pembelajaran terencana, terorganisasi, terpimpin dan sesuai dengan pengawasan
4.      Dalam memanajemen guru harus mampu menjadi pemimpin dan fasilitator
5.      Dalam pembelajaran sains harus dilakukan manajemen model dan strategi pembelajaran yang sesuai
Adapun indikasi bahwa managemen pembelajaran itu berjalan dengan baik antara lain
1.      Pembelajaran itu berjalan efisien (penggunaan tenaga, waktu dan sumber daya sudah sesuai dengan rencana)
2.      Pembelajaran itu berjalan dengan efektif (semua tujuan pembelajaran itu dapat tercapai)
3.      Pembelajaran itu berjalan dengan kompetitif (pekerjaan kita itu harus lebih baik dari orang lain)








0 Response to "PERAN MANAJEMEN DALAM PEMBELAJARAN SAINS"

Post a Comment